Declan Rice

Declan Rice MVP Untuk Arsenal, Madrid Tumbang Leg Pertama

Declan Rice Merupakan Wajah Baru Di Industry Sepakbola, Berhasil Mencetak 2 Gol Pada Pertandingan ARS VS RMD, Yuk Kita Bahas Pertandingannya. Ketika nama besar Real Madrid bertamu ke Emirates Stadium, banyak yang memprediksi duel ketat, sengit, dan berimbang akan tersaji. Namun, malam 8 April 2025 mencatatkan cerita berbeda. Sebuah kisah mengejutkan tercipta di London utara. Arsenal, tim muda yang sedang menapaki jalan menuju kejayaan, menggilas sang raja Eropa dengan skor telak 3-0 dalam leg pertama perempat final Liga Champions. Sebuah hasil yang membuat dunia sepak bola terdiam.

Di balik sorotan lampu stadion dan riuh suporter tuan rumah, Real Madrid justru terlihat seperti tim yang kehilangan arah. Pasukan Carlo Ancelotti tak kuasa membendung gelombang serangan Arsenal yang tampil penuh percaya diri dan tanpa rasa takut. Di bawah asuhan Mikel Arteta, The Gunners menyajikan permainan cepat, taktis, dan mematikan Declan Rice.

Gol pertama datang dari kaki Declan Rice, pemain yang malam itu tampil bak jenderal lapangan. Lewat tendangan bebas yang menusuk tajam ke pojok kiri atas gawang, Rice membuka keunggulan di menit ke-58. Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, hanya bisa melihat bola melayang masuk tanpa mampu menjangkaunya.

Namun Arsenal belum puas. Di menit ke-70, Rice kembali menjadi momok bagi Madrid. Kali ini, ia memanfaatkan bola liar hasil kemelut di kotak penalti dan melesakkan tembakan keras yang kembali menggetarkan jala gawang. Dua gol dari gelandang asal Inggris ini langsung mengangkat atmosfer Emirates menjadi neraka bagi tim tamu. Real Madrid mencoba bangkit. Mbappé, Vinícius Júnior, dan Rodrygo sesekali menebar ancaman, namun lini belakang Arsenal begitu disiplin Declan Rice.

Harus Pulang Dengan Luka Mendalam Setelah Dihantam Arsenal 3-0

Real Madrid datang ke Emirates Stadium dengan status sebagai penguasa Eropa, namun Harus Pulang Dengan Luka Mendalam Setelah Dihantam Arsenal 3-0. Kekalahan ini bukan hanya soal skor, tapi juga soal strategi yang gagal di terapkan dan permainan yang tidak berjalan sesuai rencana.

Formasi dan Taktik Awal

Carlo Ancelotti menurunkan formasi 4-3-3 andalannya. Di lini depan, Kylian Mbappé, Vinícius Júnior, dan Rodrygo di percaya sebagai trisula maut. Di lini tengah, Toni Kroos, Jude Bellingham, dan Eduardo Camavinga bertugas sebagai pengatur tempo sekaligus penghubung antara pertahanan dan serangan.

Secara teori, susunan ini menjanjikan kekuatan dan fleksibilitas. Namun yang terjadi di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Kelemahan Taktikal yang Terbongkar

Pertama, lini tengah Real Madrid gagal menguasai permainan. Arsenal menekan sejak awal, mematikan pergerakan Kroos dan Bellingham. Declan Rice tampil luar biasa, memutus aliran bola dan terus memaksa Madrid bermain di bawah tekanan. Madrid seolah kehilangan poros utama dalam membangun serangan.

Kedua, minimnya variasi dalam penyerangan membuat Madrid terlihat tumpul. Meski memiliki tiga penyerang cepat, tidak ada pergerakan kolektif yang mampu membongkar pertahanan Arsenal. Mbappé kerap melebar terlalu jauh, sementara Vinícius dan Rodrygo tidak cukup kreatif dalam menciptakan ruang. Tanpa striker murni, kotak penalti Arsenal nyaris tidak tersentuh.

Maka kemudian ketiga, transisi bertahan Madrid sangat lemah. Setiap kehilangan bola di tengah, Arsenal langsung melakukan serangan balik dengan cepat dan terorganisir. Lini belakang Madrid terlihat panik dan sering salah posisi. Dua dari tiga gol Arsenal lahir dari skema seperti ini. Keempat, Ancelotti terlihat terlalu berharap pada momen individu dari pemain-pemain bintangnya. Padahal, Arsenal tampil sebagai satu kesatuan yang sangat disiplin dan terlatih.

Di Lini Tengah, Declan Rice Menjadi Jangkar Utama, Didampingi Ødegaard Dan Kai Havertz Yang Bertugas Menghubungkan Lini Belakang Ke Lini Depan

Maka kemudian Arsenal tidak hanya menang skor, mereka juga menang secara taktik dan mentalitas. Di hadapan puluhan ribu penonton di Emirates Stadium, anak asuh Mikel Arteta menampilkan permainan yang nyaris sempurna: agresif, terorganisir, dan efisien. Kemenangan ini bukan sekadar hasil dari keunggulan kualitas individu, tapi buah dari perencanaan yang matang dan eksekusi taktis yang presisi.

Pendekatan Taktikal

Maka kemudian Mikel Arteta menurunkan formasi 4-3-3 yang fleksibel berubah menjadi 4-2-3-1 saat menyerang. Garis pertahanan di jaga oleh Ben White, William Saliba, Gabriel, dan Zinchenko, dengan penjaga gawang David Raya yang tampil tenang dan akurat dalam distribusi bola.

Maka kemudian Di Lini Tengah, Declan Rice Menjadi Jangkar Utama, Didampingi Ødegaard Dan Kai Havertz Yang Bertugas Menghubungkan Lini Belakang Ke Lini Depan. Ketiganya menjadi kunci dalam mengontrol tempo permainan dan menekan pergerakan pemain tengah Madrid.

Maka kemudian di lini depan, Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Leandro Trossard bermain dinamis, saling bertukar posisi dan terus menciptakan tekanan kepada bek-bek Madrid. Rotasi mereka membuat pertahanan Madrid kehilangan fokus dan ruang antar lini terbuka lebar.

Disiplin dalam Menekan

Maka kemudian Arsenal tampil sangat disiplin dalam pressing. Sejak awal pertandingan, mereka langsung menekan tinggi dan tidak memberi Madrid kesempatan mengatur ritme permainan. Ketika Kroos atau Bellingham menerima bola, dua hingga tiga pemain Arsenal langsung mengepung, memaksa Madrid melakukan kesalahan operan.

Maka kemudian pressing kolektif ini berjalan sangat rapi dan terkoordinasi. Arsenal tahu kapan harus menekan dan kapan harus mundur. Mereka tidak terpancing untuk bermain terlalu terbuka, namun tetap agresif dalam setiap kesempatan. Salah satu kekuatan terbesar Arsenal dalam pertandingan ini adalah kecepatan dalam transisi.

Arsenal Membawa Modal Besar Berupa Kemenangan 3-0 Atas Real Madrid Dari Leg Pertama

Maka kemudian Arsenal Membawa Modal Besar Berupa Kemenangan 3-0 Atas Real Madrid Dari Leg Pertama. Namun dalam sejarah Liga Champions, tidak ada tempat untuk rasa aman yang berlebihan  terutama ketika harus bermain di kandang Madrid, Bernabéu, di bawah sorotan dan tekanan ratusan ribu pendukung fanatik. Jika ingin mengunci tiket ke semifinal, Arsenal harus cerdas, disiplin, dan berani.

Berikut ini pendekatan taktis yang bisa menjadi kunci bagi Arsenal untuk mempertahankan keunggulan:

  1. Jangan Bermain Terlalu Bertahan

Maka kemudian kesalahan besar yang kerap di lakukan tim yang unggul agregat adalah terlalu bertahan sejak menit awal. Arsenal tidak boleh jatuh dalam jebakan ini. Jika mereka parkir bus dan hanya mengandalkan waktu, Madrid akan terus menyerang hingga menemukan celah. Tim seperti Madrid tahu cara membalikkan keadaan dalam situasi seperti itu — mereka sudah melakukannya berkali-kali.

Maka kemudian solusi: Arsenal harus tetap bermain dengan struktur menyerang yang rapi, terutama dengan pressing tinggi yang terbukti efektif di leg pertama. Menyerang adalah bentuk terbaik dari bertahan, selama di lakukan dengan disiplin dan tidak sembrono.

  1. Pertahankan Pressing Kolektif

Salah satu kekuatan Arsenal di leg pertama adalah pressing kolektif yang membuat Kroos, Bellingham, dan Camavinga tidak bisa mengatur ritme. Di leg kedua, meski Madrid akan tampil lebih agresif. Maka kemudian Arsenal tetap harus menjaga pressing ini agar Madrid tak leluasa mengontrol bola di tengah Declan Rice.