Cita Rasa Abadi: 4 Kuliner Yogyakarta Dari Zaman Perang

Cita Rasa Abadi: 4 Kuliner Yogyakarta Dari Zaman Perang

Cita Rasa Abadi: 4 Kuliner Yogyakarta Dari Zaman Perang Karena Ada Yang Masih Berdiri Sejak Tahun 1940 Dengan Historisnya. Selamat makan siang, Sobat Kuliner! Bagaimana petualangan rasa anda hari ini? Semoga selera makan anda sedang dalam kondisi terbaik untuk menyimak kisah yang satu ini. Yogyakarta bukan hanya tentang gedung-gedung tua yang bisu. Namun melainkan juga tentang aroma sedap yang menyelinap dari dapur-dapur legendaris yang telah mengepul. Bahkan sebelum kemerdekaan di proklamasikan. Terlebih membicarakan kuliner Jogja adalah membicarakan sebuah “Cita Rasa Abadi” yang berhasil melintasi zaman. Bayangkan saja, di tengah gempuran tren makanan kekinian. Tentunya di mana bangsa ini masih berjuang di tengah kecamuk perang. Mari kita telusuri lebih jauh, warung mana saja yang berhasil menjaga konsistensi rasa selama lebih dari delapan dekade di jantung Yogyakarta!

Mengenai ulasan tentang Cita Rasa Abadi: 4 kuliner Yogyakarta dari zaman perang telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.

Lupis Mbah Satinem (Sejak 1963)

Ia merupakan salah satu ikon kuliner legendaris Yogyakarta yang telah bertahan sejak tahun 1963. Dan yang hingga kini masih menjadi tujuan utama pencinta jajanan tradisional. Berlokasi di kawasan Bumijo, Jetis, Yogyakarta, lupis buatan Mbah Satinem di kenal bukan hanya karena rasanya yang khas. Akan tetapi juga karena nilai sejarah dan konsistensi resepnya yang tidak berubah selama lebih dari enam dekade. Lupis sendiri adalah makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang di bungkus daun pisang. Kemudian di rebus hingga menghasilkan tekstur kenyal. Lalu di sajikan dengan parutan kelapa segar dan siraman gula merah cair yang manis dan legit. Keistimewaan Lupis Mbah Satinem terletak pada proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Semua bahan di gunakan secara sederhana dan alami, tanpa pengawet maupun teknik modern. Setiap pagi, lupis di siapkan dalam jumlah terbatas.

Cita Rasa Abadi: 4 Kuliner Yogyakarta Dari Zaman Perang Yang Penuh Cerita

Kemudian juga masih membahas Cita Rasa Abadi: 4 Kuliner Yogyakarta Dari Zaman Perang Yang Penuh Cerita. Dan kuliner lainnya adalah:

Sate Klatak Pak Bari (Sejak 1992)

Ia merupakan salah satu kuliner legendaris Yogyakarta yang telah bertahan sejak tahun 1992 dan menjadi ikon sate kambing khas Bantul. Berlokasi di kawasan Jejeran, Pleret, Bantul, warung ini di kenal luas karena menyajikan sate klatak. Tentunya dengan cara yang sangat sederhana namun memiliki cita rasa yang khas dan sulit di tandingi. Sate klatak sendiri berbeda dari sate pada umumnya karena menggunakan tusuk jeruji besi sepeda, bukan tusuk bambu. Sehingga panas merata hingga ke bagian dalam daging saat di panggang. Keunikan utama Sate Klatak Pak Bari terletak pada konsep bumbunya yang minimalis. Daging kambing muda di potong besar, hanya di bumbui garam. Lalu di panggang di atas bara api hingga matang sempurna. Kesederhanaan ini justru menonjolkan kualitas daging kambing yang empuk, juicy, dan tidak berbau prengus

Setelah di bakar, sate klatak biasanya di sajikan bersama kuah gulai khas yang gurih dan kaya rempah. Kemudian juga memberikan keseimbangan rasa antara gurih, asin, dan aroma rempah yang kuat. Sejak pertama kali berdiri, Sate Klatak Pak Bari di kenal konsisten mempertahankan resep dan cara memasak tradisional. Warungnya sederhana, tanpa konsep modern atau kemasan berlebihan. Namun selalu ramai pengunjung, terutama pada jam makan siang dan malam. Banyak pelanggan setia yang datang dari luar kota bahkan luar daerah. Maka yang menjadikan tempat ini sebagai destinasi kuliner wajib saat berkunjung ke Yogyakarta. Keberhasilan Pak Bari mempertahankan cita rasa selama puluhan tahun membuat sate klatak ini. Dan yang menjadi standar rujukan bagi sate klatak lainnya. Dalam konteksnya, Sate Klatak Pak Bari sering di sejajarkan dengan berbagai makanan ikonik lain yang telah lebih dahulu eksis.

4 Rasa Legendaris Jogja: Bertahan Lebih Dari 80 Tahun

Selain itu, masih membahas 4 Rasa Legendaris Jogja: Bertahan Lebih Dari 80 Tahun. Dan kuliner lainnya adalah:

Oseng-Oseng Mercon Bu Narti (Sejak 1998)

Ia merupakan salah satu kuliner legendaris Yogyakarta yang telah eksis sejak tahun 1998. Dan di kenal luas sebagai ikon masakan pedas ekstrem khas Kota Gudeg. Berlokasi di kawasan Kasihan, Bantul, warung sederhana ini menjadi tujuan utama para pecinta makanan pedas yang ingin merasakan sensasi “mercon”. Atau ledakan rasa pedas yang benar-benar membakar lidah. Nama “mercon” sendiri menggambarkan karakter utama hidangan ini. Tentunya yakni tingkat kepedasan yang sangat tinggi dari penggunaan cabai rawit dalam jumlah melimpah. Menu andalan Oseng-Oseng Mercon Bu Narti terbuat dari daging sapi, kikil, lemak, dan tetelan. Serta yang di masak dengan bumbu sederhana khas Jawa, seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun salam, dan kecap. Lalu di padukan dengan cabai rawit yang di ulek kasar.  Proses memasaknya dilakukan hingga bumbu meresap sempurna. Kemudian menghasilkan rasa gurih-manis khas masakan Jawa yang berpadu dengan pedas menyengat.

Tekstur daging yang empuk serta potongan lemak yang meleleh di mulut menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Keistimewaan Oseng-Oseng Mercon Bu Narti terletak pada konsistensi rasa. Dan keberanian mempertahankan tingkat kepedasan asli sejak pertama kali berdiri. Meski tren kuliner terus berubah, Bu Narti tetap mempertahankan cita rasa pedas autentik tanpa kompromi. Warungnya di kenal sangat sederhana. Bahkan terkesan rumahan, namun hampir setiap malam selalu di padati pengunjung. Terutama saat jam makan malam. Banyak pelanggan yang rela mengantre panjang demi seporsi oseng mercon yang terkenal “kejam” di lidah, namun tetap nagih. Dalam perjalanan waktunya, tidak hanya menjadi tempat makan. Akan tetapi juga bagian dari identitas kuliner Yogyakarta modern yang tetap berakar pada tradisi. Keberadaannya mempopulerkan oseng mercon sebagai salah satu kuliner khas Jogja yang wajib di coba.

4 Rasa Legendaris Jogja: Bertahan Lebih Dari 80 Tahun Yang Wajib Coba

Selanjutnya juga masih membahas 4 Rasa Legendaris Jogja: Bertahan Lebih Dari 80 Tahun Yang Wajib Coba. Dan fakta lainnya adalah:

Mie Lethek Garuda (Sejak 1940)

Ia merupakan salah satu kuliner legendaris Yogyakarta yang memiliki nilai sejarah sangat kuat. Karena telah bertahan sejak tahun 1940. Maka yang menjadikannya salah satu kuliner tertua yang masih eksis hingga kini. Berlokasi di kawasan Pleret, Bantul, Mie Lethek Garuda di kenal sebagai representasi autentik kuliner tradisional Jawa yang lahir dari kesederhanaan, ketekunan. Dan kearifan lokal masyarakat Yogyakarta pada masa lampau. Mie lethek sendiri adalah mie khas Bantul yang di buat dari tepung singkong dan tepung gaplek. Namun bukan dari tepung terigu seperti mie pada umumnya. Warna mie yang cenderung kusam atau keabu-abuan menjadi asal-usul nama “lethek”. Serta yang dalam bahasa Jawa berarti kotor atau kusam. Namun di balik tampilannya yang sederhana, mie lethek memiliki tekstur kenyal khas dan rasa yang ringan.

Sehingga mampu menyerap bumbu dengan sangat baik. Di Mie Lethek Garuda, mie di masak secara tradisional menggunakan anglo dan arang. Tentunya dengan sebuah metode memasak kuno yang kini semakin jarang di temui. Keistimewaan Mie Lethek Garuda terletak pada konsistensi proses produksi dan cara memasaknya yang nyaris tidak berubah sejak pertama kali berdiri. Mulai dari pembuatan mie yang masih dilakukan secara tradisional hingga proses memasak satu per satu porsi di atas api arang. Maka semuanya menciptakan cita rasa khas yang tidak bisa di samakan dengan mie modern. Menu yang di sajikan umumnya berupa mie lethek goreng atau rebus, di padukan dengan telur bebek, ayam kampung. Dan bumbu sederhana khas Jawa yang gurih dan sedikit manis.

Jadi itu dia 4 kuliner Yogyakarta dari zaman perang yang penuh Cita Rasa Abadi.