Site icon BeritaPopuler24

Tukang Es Gabus Ngaku Dianiaya, Kini Takut Jualan Lagi

Tukang Es Gabus

Tukang Es Gabus Ngaku Dianiaya, Kini Takut Jualan Lagi

Tukang Es Gabus Bernama Sudrajat (50) Yang Berjualan Di Wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, Pada Sabtu, 24 Januari 2026 Terkena Sebuah Insiden. Viral di media sosial dan memicu respons dari masyarakat serta aparat keamanan. Insiden ini kini menjadi sorotan luas karena melibatkan dugaan tindakan kekerasan oleh sejumlah oknum anggota Binmas dan Babinsa terhadap seorang pedagang kecil yang tengah mencari nafkah.

Kejadian bermula ketika Sudrajat Tukang Es Gabus di datangi oleh anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa di tempat jualannya lantaran muncul laporan dari warga yang mengira dagangan Sudrajat, yaitu es gabus, terbuat dari spons atau bahan berbahaya. Sebuah video yang kemudian tersebar menunjukkan oknum aparat meremas es gabus yang di jual. Membuat cairannya tumpah, dan kemudian kembali meremas sisa es tersebut. Tindakan itu membuat Sudrajat Tukang Es Gabus dan saksi melihatnya terkejut.

Perlakuan Fisik yang Menyakitkan kepada Tukang Es Gabus

Menurut pengakuan Sudrajat saat di temui di rumahnya di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, perlakuan aparat tidak hanya sebatas memeriksa dagangan. Ia mengaku di gampar, ditonjok, dan di tendang pakai sepatu boots oleh oknum saat kejadian berlangsung. Peristiwa itu membuat dirinya terpental saat di tendang dan merasa sangat di rugikan.

“Saya di tonjok, di tendang pakai sepatu boots. Di tendang. Saya sampai terpental,” ujar Sudrajat yang kini masih trauma akan kejadian tersebut.

Korban juga sempat di suruh berdiri dengan satu kaki dalam insiden itu, dan menurutnya aparat sempat memperagakan tindakan yang menurutnya tidak pantas di ruang publik. Kejadian ini membuat Sudrajat kini takut kembali berjualan di Kemayoran. Bahkan ia mengaku kapok kembali menjual es gabus karena trauma dan jadi sasaran fisik lagi.

Dugaan Salah Paham hingga Hasil Uji Laboratorium

Kasus ini bermula dari dugaan pedagang es gabus menjual barang dengan bahan spons berbahaya. Yang ternyata adalah kesimpulan cepat beberapa oknum tanpa melakukan verifikasi ilmiah terlebih dahulu. Nantinya Polres Metro Jakarta Pusat melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap es tersebut dan hasilnya menyatakan bahwa es gabus yang di jual Sudrajat aman di konsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya seperti spons atau busa.

Klarifikasi ini di katakan sendiri oleh anggota Bhabinkamtibmas yang terlibat, yang kemudian menyampaikan permintaan maaf publik atas kesimpulan cepat serta kekeliruan dalam penanganan kasus. Mereka mengaku tidak bermaksud mencemarkan nama baik Sudrajat dan hanya bereaksi atas laporan warga. Yang khawatir akan kemungkinan makanan berbahaya beredar di lingkungan mereka.

Kecaman dan Tuntutan Keadilan

Permintaan maaf oknum aparat tersebut belum cukup untuk menjawab keresahan publik dan anggota legislatif. Salah satunya, anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menilai penanganan kasus ini harus di selesaikan lebih jauh daripada sekadar permintaan maaf. Ia menilai tindakan aparat yang menuduh pedagang kecil tanpa verifikasi bisa menjadi preseden buruk dan merugikan rakyat kecil.

Abdullah bahkan meminta agar oknum aparat yang terlibat di berikan sanksi etik dan disiplin internal. Serta mendorong pendampingan hukum bagi Sudrajat jika ia ingin menempuh jalur hukum pidana. Hal ini di lakukan agar peristiwa seperti ini tidak terulang dan memberikan efek jera bagi aparat yang bertindak di luar prosedur.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Korban

Kejadian ini bukan hanya menyisakan luka fisik dan mental bagi Sudrajat. Tetapi juga mempunyai dampak nyata terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan keluarganya. Ia sudah tiga puluh tahun berjualan es gabus, mengambil stok dagangannya dari Depok setiap pagi untuk di jajakan di Jakarta, karena hasil jualannya lebih laku di bandingkan di daerah asalnya. Kini, ia menyatakan kapok dan berencana beralih jualan gorengan di sekitar rumahnya demi menghindari kejadian serupa.

Kondisi ini menjadi gambaran tantangan yang di hadapi oleh banyak pedagang kecil yang hidup dari hasil dagangan mereka setiap hari. Di mana kesalahan asumsi dan tindakan aparat yang tidak profesional bisa berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi keluarga kecil.

Exit mobile version