Site icon BeritaPopuler24

Heartburn Penyebab, Gejala Dan Cara Mengatasinya

Heartburn

Heartburn Penyebab, Gejala Dan Cara Mengatasinya

Heartburn Adalah Sensasi Panas Atau Terbakar Di Dada Yang Sering Di Rasakan Setelah Makan, Mari Pahami Gejala Dan Penyebabnya. Meski namanya mengandung kata “heart”, kondisi ini tidak berhubungan langsung dengan penyakit jantung, melainkan berkaitan dengan gangguan pada sistem pencernaan, khususnya lambung dan kerongkongan. Heartburn merupakan salah satu keluhan yang cukup umum dialami masyarakat, baik sesekali maupun berulang dalam jangka panjang.

Apa Itu Heartburn? Heartburn terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus). Normalnya, terdapat katup bernama lower esophageal sphincter (LES) yang berfungsi mencegah isi lambung naik kembali. Namun, ketika otot ini melemah atau relaksasi terjadi pada waktu yang tidak tepat, asam lambung dapat naik dan mengiritasi dinding kerongkongan yang sensitif. Iritasi inilah yang menimbulkan rasa panas dan nyeri di dada. Heartburn sering di kaitkan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD), terutama jika keluhan muncul berulang kali atau berlangsung lama.

Gejala Heartburn

Gejala utama heartburn adalah rasa terbakar di bagian tengah dada, yang terkadang menjalar hingga leher atau tenggorokan. Sensasi ini sering muncul setelah makan besar, mengonsumsi makanan tertentu, atau saat berbaring. Selain rasa panas, penderita juga bisa mengalami rasa asam atau pahit di mulut, perut terasa penuh, kembung, serta mual ringan.

Pada sebagian orang, heartburn juga disertai dengan kesulitan menelan, batuk kering, atau suara serak, terutama jika asam lambung sering naik hingga ke tenggorokan.

Penyebab dan Faktor Risiko

Beberapa faktor dapat memicu heartburn. Pola makan menjadi penyebab paling umum, terutama konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, cokelat, kopi, dan minuman bersoda. Selain itu, makan dalam porsi besar dan langsung berbaring setelah makan juga meningkatkan risiko.

Gaya hidup turut berperan besar. Merokok, konsumsi alkohol, stres, serta kelebihan berat badan dapat memperburuk kondisi LES sehingga asam lambung lebih mudah naik. Pada wanita hamil, perubahan hormon dan tekanan dari rahim yang membesar juga sering memicu heartburn.

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), obat tekanan darah, dan obat penenang, juga dapat menyebabkan atau memperparah heartburn.

Cara Mengatasi Kondisi Ini

Penanganannya bergantung pada tingkat keparahan dan frekuensi gejalanya. Untuk keluhan ringan, perubahan gaya hidup sering kali sudah cukup efektif. Mengatur pola makan dengan porsi kecil tetapi sering, menghindari makanan pemicu, serta tidak berbaring setidaknya dua hingga tiga jam setelah makan dapat membantu mengurangi gejala.

Menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan membatasi alkohol juga sangat di anjurkan. Saat tidur, meninggikan posisi kepala sekitar 15–20 sentimeter dapat mencegah asam lambung naik ke kerongkongan.

Dari sisi medis, beberapa obat dapat di gunakan untuk meredakan heartburn, seperti antasida, H2 blocker, dan proton pump inhibitor (PPI). Antasida bekerja dengan menetralkan asam lambung, sedangkan H2 blocker dan PPI menekan produksi asam. Penggunaan obat sebaiknya tetap sesuai anjuran dokter, terutama jika di konsumsi dalam jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter?

Kondisi ini yang terjadi sesekali umumnya tidak berbahaya. Namun, jika keluhan muncul lebih dari dua kali seminggu, tidak membaik dengan obat bebas, atau di sertai gejala seperti nyeri dada berat, muntah darah, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas, segera periksakan diri ke dokter.

Gejala nyeri dada akibat heartburn kadang sulit di bedakan dengan nyeri akibat penyakit jantung. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat dan mencegah komplikasi serius.

Pencegahan Heartburn

Mencegah Heartburn dapat di lakukan dengan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Memilih makanan yang lebih ramah lambung, makan secara teratur, mengelola stres, serta menjaga aktivitas fisik yang cukup dapat membantu mengurangi risiko kambuhnya keluhan ini.

Exit mobile version