Site icon BeritaPopuler24

Cikini Ke Ragunan, Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta

Cikini Ke Ragunan

Cikini Ke Ragunan, Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta

Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta Yang Menjadi Sebuah Inisiatif Pemerintah Dengan Berbagai Alasan. Halo para pecinta sejarah dan warga Jakarta! Sudahkah anda tahu bahwa ikon wisata satwa yang kita kenal sebagai Kebun Binatang Ragunan. Namun ternyata bukanlah lokasi aslinya? Terlebih jauh sebelum gajah, harimau, dan primata menempati lahan luas di Jakarta Selatan. Dan mereka semua tinggal di kawasan yang kini di kenal sebagai pusat kota yang sibuk. Ya, tempat kelahiran Kebun Binatang Jakarta yang pertama adalah di Cikininya! Maka sebuah fakta yang mungkin mengejutkan bagi banyak orang. Mengapa sebuah kebun binatang yang pernah menjadi primadona di kawasan elite harus berpindah lokasi? Mari kita telusuri bersama kisah menarik di balik transisi lokasi Cikini Ke Ragunan ini. Dan bersiaplah untuk mengungkap misteri di balik alasan logistik dan historis yang mengubah peta rekreasi di Ibu Kota!

Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta Dengan Berbagai Alasan

Ruang Di Sana Semakin Terbatas

Pada awal berdirinya tahun 1864, kebun binatang pertama di Indonesia. Terlebih yang saat itu di kenal dengan nama Planten en Dierentuin (Taman Tanaman dan Binatang). Dan berada di kawasan Batavia. Tentu lokasi tersebut awalnya merupakan tanah milik pelukis terkenal Raden Saleh seluas sekitar 10 hektar. Pada masa itu, lahan tersebut dianggap cukup luas. Tentunya untuk menampung berbagai jenis satwa dan tanaman tropis yang di koleksi oleh masyarakat Eropa dan bangsawan pribumi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berkembang pesat menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan yang padat. Pertumbuhan penduduk di Jakarta pada pertengahan abad ke-20 membuat area di sekitar kebun binatang di penuhi oleh rumah, toko, dan jalan raya. Akibatnya, ruang terbuka untuk memperluas kandang atau membangun fasilitas baru semakin terbatas. Selain itu, jumlah koleksi satwa terus bertambah. Banyak hewan berukuran besar seperti gajah dan harimau.

Pertumbuhan Hewan Dan Koleksi Yang Membesar

Sejak awal berdirinya pada tahun 1864, kebun binatang di sana sudah menjadi pusat perhatian masyarakat Batavia. Kemudian di dirikan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia). Dan berawal dari koleksi pribadi Raden Saleh, taman ini bukan hanya menampilkan tanaman hias. akan tetapi juga mulai memelihara berbagai satwa eksotis dari dalam dan luar negeri. Pada awalnya, jumlah hewan yang di pelihara masih terbatas, terdiri dari burung, reptil, dan beberapa mamalia kecil. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap dunia fauna. Kemudian koleksi hewan terus bertambah pesat.

Kondisi Lingkungan Tidak Ideal

Pada masa awal berdirinya, kawasan Batavia (kini Jakarta). Tentu yang merupakan daerah yang masih asri dan memiliki suasana tenang. Lingkungan sekitar di dominasi oleh pepohonan, kebun, dan rumah-rumah bergaya kolonial dengan halaman luas. Hal ini membuat tempat tersebut sempurna untuk menjadi lokasi kebun binatang pertama di Indonesia. Karena satwa dapat hidup di lingkungan yang masih alami dan relatif sejuk. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kota Batavia menjadi Jakarta yang modern. Dan kondisi lingkungan Cikini berubah drastis. Daerah ini mulai di padati bangunan, rumah penduduk, sekolah, toko. Serta jalan raya yang ramai kendaraan.

Inisiatif Pemerintah DKI Jakarta

Pemindahan kebun binatang dari Cikini ke Ragunan tidak terjadi begitu saja. Namun melainkan merupakan hasil dari inisiatif dan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang menyadari pentingnya pelestarian satwa. Serta perlunya fasilitas yang layak bagi hewan dan masyarakat. Pada awal tahun 1960-an, kondisi kebun binatang di sana sudah di anggap tidak memadai lagi. Lahan yang hanya seluas sekitar 10 hektar di tengah kota sudah penuh sesak oleh kandang, bangunan. Dan juga dnegan jalur pengunjung. Banyak laporan dan keluhan yang muncul terkait kesejahteraan hewan, bau tidak sedap. Terlebih hingga polusi suara yang mengganggu baik satwa maupun masyarakat sekitar.

Exit mobile version